24 Desember 2011
bocah di sudut pintu kereta, dan sebuah senyuman
Siang itu..
saya berangkat dari kos menuju stasiun kalibata, berniat menjumpai kakak dan adik saya yang ingin berangkat menuju kediri di stasiun senen.Lepas shalat dzuhur saya berangkat seorang diri menuju stasiun dengan menggunakan bajay dengan suara ng-beat nya, dan menggunakan kopaja dengan supirnya yang ugal-ugalan.
sesampainya di stasiun kalibata, saya membeli karcis kereta yang lebih cepat menuju stasiun yang saya tuju, yang saya dapat karcis ekonomi bogor-jatinegara.
siang itu siang yang terlalu terik , saya menumpangi kereta dengan berdiri,keringat bercucuran seiring lelah yang menghantam.
di ujung pintu itu seorang bocah yang umurnya berkisar 6 tahun,memakai kaus hitam dan celana pendek biru dongker ,tak beralas kaki.Dia berceloteh sendiri menertawakan jalanan, menyebut nama- nama stasiun di setiap stasiun yang disinggahi kereta,keluar jika kereta berhenti, berlari lari,lalu masuk lagi.
ketika saya tak sengaja ketahuan memperhatikannya,dia melemparkan senyum pada saya.wajahnya lumayan lucu ,ternyata dia seorang pengamen + tukang sapu di kereta ekonomi.
dia berdiri ,duduk, lalu berdiri, lalu duduk lagi, tebakanku dia anak yang lumayan hyper active, jika aku jadi ibunya , aku akan katakan "hati hati nak ,kemari jangan duduk dan bermain disitu", karena ia diujung pintu.Mungkin karena naluri itu, aku spontan berkata "hati -hati dek".Akhirnya dia memperhatikan apa yang aku ucapkan, lalu duduk manis di ujung pintu.Ya, itu masih berbahaya.
beberapa menit kemudian, dia menemukan mainan yang cukup membuatnya gembira,sambil berceloteh sendiri, tertawa-tawa, dia menyambar dan mencabuti daun daun jika kereta melewat pohon yang sanggup ia capai, ketika sudah cukup banyak, ia melemparkannya ke jalanan yang penuh dengan pengendara motor dan mobil,yang terdapat portal kereta dimana kereta kami melintas.
Dia tertawa-tawa riang ,sekali dia pun meledek anak anak pengamen, pengemis kereta yang mungkin ia kenal dengan menyebarkan daun-daun di atas mereka lewat kereta yang kami tumpangi.
Akupun sampai di stasiun yang aku tuju.Kakak dan adikku tak kunjung-kunjung datang hingga mereka ketinggalan kereta.Akhirnya aku kembali pulang, ternyata aku pulang dengan kereta yang sama, dan ada anak itu lagi di gerbong yang sama, dia tertawa dan melemparkan senyum kepadaku.suatu kebetulan, batinku bicara.
Setelah kereta berjalan, ternyata masih asyik dengan daun daunnya, dia mengumpulkan daun dengan meraih mencabutnya ketika ada pohon yang dekat kepada kereta yang melintas, ketika ia menghamburkan daunnya , angin menyerempet daun itu hingga dia dan aku yang tersembur daun oleh angin, dia mengulum senyum, seperti tanda maaf,aku tersenyum saja, maklum anak-anak batinku.
ketika ada penumpang turun, aku mendapatkan kursi di dekat pintu, aku menatap sekeliling kereta.Panas , sangat dekil, berisik,dan sangat tak terawat. Aku memandang mengintip sekeliling gerbong lain dari tempat dudukku.
tiba-tiba "plettaaak" ada sebuah kayu bersarang menghantam mata kakiku, mirip kayu ketapel .Ternyata kayu itu serangan balik dari teman-teman bocah itu ,balasan bagi ledekannya yang berupa semburan dedaunan, Bocah itu dinasehati penumpang lain ,seorang bapak-bapak,agar tidak bermain-main lagi, kasihan penumpang yang jadi korbannya, begitu samar-samar ku dengar.Diapun melengos, menghindari tatapanku,menggerak-gerakkan tangannya, mulutnya tiba-tiba terkunci bagai dikutuk bapak tadi,dia mengantongi daun daun yang dia kumpulan di saku celana belakangnya,sakunya yang sudah robek, lalu memberanikan melihatku sambil tersenyum, dari matanya aku baca, itu tanda maaf, aku pun membalasnya dengan mengulum senyum,"tidak mengapa dik" gambaran senyumku.
aku telah ke stasiun kembali pulang,tidak ke kosanku jakarta, tapi ke bogor, keesokannya aku kembali berniat ke jakarta, dengan menumpangi motor , ayahku mengantarkanku ke stasiun bojong , di jalanan, portal kereta dengan bunyi kereta melintas yang khas,memaksa kami untuk berhenti.
"Wusssh, dedaunan menghaburi wajahku, ternyata aku lihat di kereta yang melintas, dia lagi , ya bocah itu,bocah itu dengan senyumannya yang menghaburkan dedaunan , dan wajahku lagi yang terkena semburan dedaunannya.Aku ingin tersenyum,teringat dia diomeli bapak-bapak karna bermain daun daun itu, dia bagai dikutuk jadi bisu , dia yang hyper active langsung diam, mulutnya yang berceloteh sendiri,tertawa-tawa tiba-tiba terkunci, tapi yang tersisa cuma satu, senyuman.
seminggu kemudian..
jadwalku untuk kembali ke bogor,cuaca rada mendung, penumpang berdesakkan, aku tak dapat tempat duduk lagi, sesampainya di stasiun, di tepi jalan kereta, banyak orang mengerumuni sesuatu, yang tidak aku tau pastinya, sebagian menutup hidungnya, bau anyir darah,
setelah aku dekati penasaran, aku pun ikut berjalan mengikuti kerumunan orang, ternyata,...
Bocah itu ..
Ya Bocah itu..
tewas terjatuh dari kereta,
menggenggam dedaunan,...
masih dengan pakaian yang sama,tanpa alas kaki,
dengan celana dengan saku yang sudah robek..
dan yang terakhir,ia masih mengulum senyum..
aku belajar darinya
hiduplah dengan senyuman,
nikmatilah segala kegembiraan yang kamu punya,
agar jika kamu mati,
senyummu akan dikenang..
Sore yang mendung,Desember 2011
Naylin Najihah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



:'(
BalasHapusakhirnya hiduplah dengan senyuman...
BalasHapushidupkanlah orang lain dengan senyummu ....
meski senyum hal yang remeh memberikan kenangan manis bai yang menerimanya ...
dan rosulpun bersabda "senyummu adalah ibadahmu "..